Warung makan Nasi Jagung
banyak dijumpai di tempat ini.Proses pembuatan Nasi Jagung cukup rumit, setelah di slap atau ditumbuk halus direndam selama 4 hari, setiap hari airnya diganti agar rasanya tidak kecut, baru kemudian ditanak selama kurang lebih 3 jam. Sedang botok yuyu dibuat dari yuyu sawah atau pinggir kali yang ditumbuk halus diberi bumbu botok kemudian direbus.
Menu kedua yang tidak kalah menariknya adalah Sayur lompong, dibuat dari batang lompong yang dipotong 5 cm panjangnya diberi bumbu bobor, disajikan dengan “lemi”, yaitu telur yuyu yang dioseng , ditambah tempe mendoan hangat duh nikmatnya. Minumnya segelas air teh panas , hujan hujan begini rasanya maknyos kembrobos , keringat keluar semua.
Menu Nasi jagung Botok yuyu bisa di lengkapi dengan Gudangan dan rica2 kelinci, sedang sayur lompong+lemi bisa ditemani dengan mendoan anget atau keripik Udang. Kedua menu tersebut menjadi makanan favorit masyarakat Purwodadi. Dan sekarang penggemarnya semakin meningkat.
Mereka yang pernah merasakan menu tersebut, bila lewat kota Purwodadi pasti mampir ke warung Nasi Jagung untuk menghilangkan rasa kangen dengan masakan tradisional tersebut.
Disamping ciri kulinernya yang khas , suasana warung yang sederhana, ac angin silir sepoi-sepoi, juga nggak masalah bila kaki mau dinaikkan sambil makan, karena berada dipedesaan, membuat pengunjung menjadi ketagihan. Dengan uang Rp.5.000,- sampai Rp.10.000,- sudah bisa dinikmati semuanya.
Di Purwodadi kebanyakan penjualnya Mbak Harsiti, tempatnya cukup luas bisa slonjor, meluruskan kaki.Warung Nasi Jagung di Danyang Purwodadi setiap hari buka bahkan banyak sekali tamu dari luar daerah merasakan maknyosnya botok landing peyek teri dan sayur lompong.
Dalam sehari, Harsiti mampu menghabiskan satu ember jagung (sekitar delapan kilogram) serta 200 hingga 300 ekor yuyu. Dijelaskan, proses memasak jangung dan yuyu tersebut cukup rumit. Namun yang jelas, untuk menyajikan kedua jenis makanan itu, Harsiti menyiapkan alat penggilingan untuk menggiling jagung dan yuyu itu.
Dikenal dengan Nasi Jagung dan Botok Yuyu
Jagung yang digunakan Harsiti adalah jenis jagung putih. “Sebelum dimasak, jagung harus direndam selama empat hari,” jelasnya kepada Radar Kudus. Agar kerja Harsiti efisien, ia menyiapkan empat ember untuk merendam jagung-jagungnya. Setiap ember manandakan berapa lama proses perendaman telah berlangsung.
Setelah empat hari, jagung putih itu kemudian ditiriskan dan dikeringkan. Langkah berikutnya, Harsiti kemudian menggiling jagung-jagungnya hingga lembut. “Bisa tiga hingga empat kali penggilingan,” terangnya. Proses pembuatan tak berhenti disini. Setelah didapat jagung halus, jagung-jagung itu kemudian didang dengan alat tradisional. Setelah matang, baru diangkat dan siap disajikan.
Yang tak kalah rumit adalah pemrosesan yuyu hingga menjadi berbagai macam menu olahan. Yuyu atau kepiting sawah sebelumnya dicuci dan dibersihkan dari lumpur-lumpur yang menempel. “Setelah bersih kemudian digiling hingga halus,” jelasnya. Dari hasil penggilingan itulah, Harsiti memperoleh, daging dan lemak yuyu yang kemudian diolah menjadi berbagai variasi makanan